Dari uji coba dan hasil pengujian terhadap sistem
identifikasi gambar pornografi dengan teknik image retrieval ini
dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain :
a). Sistem identifikasi gambar pornografi ini terbukti berhasil
melakukan identifikasi gambar pornografi maupun gambar
non pornografi. Hal ini dapat dilihat dari tingkat detection
rate-nya atau DR yang mencapai 94 % untuk deteksi gambar
pornografi. Dan 89 % untuk deteksi gambar non pornografi.
Nilai paling optimum dalam identifikasi ini adalah dengan
Tad = 10 dan nilai g = 50
b). Pergeseran nilai Tad mempengaruhi pengidentifikasian
gambar. Dengan semakin besar nilai Tad maka DR untuk
deteksi gambar pornografi semakin kecil, sedangkan DR
untuk deteksi gambar non pornografi justru semakin optimal.
Artinya dengan kata lain batasan gambar yang dianggap
sebagai gambar pornografi semakin longgar. Sehingga jika
digunakan dalam aplikasi browser, maka nilai Tad dapat di
ubah-ubah untuk menyesuaikan user yang menggunakan. Jika
usernya anak-anak, maka nilai Tad perlu disesuaikan menjadi
lebih kecil. Sedangkan untuk user dewasa nilai Tad dapat
lebih besar.
c). Untuk pengaruh masing-masing descriptor pada identifikasi
gambar dengan teknik image retrieval ini juga sama
pentingnya. Yakni antara fitur scalable color descriptor
(SCD) dan edge histogram descriptor (EHD) mempunyai
pengaruh yang sama-sama signifikan dalam identifikasi.
Sedangkan fitur compactness descriptor (CD) semakin
menambah tingkat keakuratan identifikasi.
d). Kesulitan dihadapi ketika mengidentifikasi gambar yang
mempunyai kemiripan dengan warna kulit. Misalnya ada latar
belakang gambar yang warnanya menyerupai warna kulit,
maka akan dianggap sebagai skin-pixel sehingga akhirnya
hasil identifikasinya juga kurang begitu baik. Karena
dianggap latar belakang itu adalah obyek manusia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar